Friday, 10 August 2018

Happy!


Sejak bulan Maret lalu, saya memiliki cukup banyak waktu (yang bisa dibilang) luang. Saya memang memiliki (pun mengikuti) beberapa kegiatan yang membuat waktu saya lebih produktif selama 5 bulan kemarin (Maret-Juli), namun saya juga berkesempatan untuk sering berinteraksi dengan diri sendiri.

Salah satu kegiatan rutin untuk mengisi keseloan saya selama masa transisi ini adalah membereskan file-file di laptop. Menerapkan ilmu 5s dan konmari untuk laptop sendiri #sikap!

Saya pun menemukan playlist-playlist lama,
salah satunya adalah lagu-nya Mocca yang judulnya Happy.

Menurut saya, liriknya punya makna yang.......

.....dalam.

Sunday, 5 August 2018

Jeda

Beberapa orang bilang heran dengan saya,
Mereka pikir saya akan melaju secepatnya,
Berpindah dan berpijak.. 'tuk menemukan singgasana

Beberapa orang bertanya-tanya,
Apakah saya kehilangan asa dan cita,
Tak memiliki keinginan untuk menaklukkan dunia?

Beberapa orang mengira pun menerka-nerka,
Ada apakah gerangan dengan saya?

Teramat jelas jawabannya...

Saya tidak apa-apa,
Lebih dari sekedar baik-baik saja,
Hanya saja menurut saya,
Saya hanya sedang memerlukan jeda

Bukan tahta pun harta yang ingin saya cipta,
melainkan bahagia,
sebenar-benarnya bahagia,
bahagia dalam makna sesungguhnya,
baik dalam raga maupun jiwa

Dan ya!
Mari mencipta bahagia,
tanpa ada dusta di dalamnya

:)

Saturday, 14 July 2018

How's Life?

Hi, folks!
Apa kabar?

Udah lama nggak nyampah benang-benang kusut kepala di sini. Saatnya membersihkan sarang laba-laba yang menutupi blog ini semenjak sempat sengaja di-deactivated awal tahun 2018 hingga bulan lalu.

Beberapa bulan belakangan saya sedang malas-malasnya menulis di manapun.

Sebenernya sayang banget, banyak kejadian menarik pun penting dalam hidup yang terlewatkan. Biarpun beberapa sempat ditulis di jurnal pribadi, tetap saja banyakan yang ke-skip begitu saja.

Sadar banget sih kalau sebenarnya saya masih hutang beberapa tulisan yang sudah saya nadzar-kan untuk sharing di blog. Nyatanya, sampai sekarang masih wacana. Semoga saya segera diberikan semangat dan mood untuk menuliskannya.

Ngomong-ngomong tentang tahun 2018, bisa dibilang tahun lalu saya gagal memenuhi target utama saya, yaitu meraih gelar sarjana. Tuhan punya rencana lain. Saya akhirnya bisa ikut periode sidang 2 bulan setelah 2017 berlalu dengan beraneka macam drama di baliknya.

Hingga setelah genap menunggu tiga bulan sehabis sidang, bulan Mei datang dan saya pun WIS-UDAH juga. Sebenarnya hanya selebrasi saja, cuma karena saya adalah anak pertama jadi mungkin berasa gitu leganya buat ibu saya. Akhirnya anak pertamanya sudah selesai menjalankan kewajiban untuk belajar sampai sarjana.

Padahal 4,5 tahun lalu sempat ragu sama diri sendiri kalau akan settle hingga sarjana, tapi nyatanya? Semua lebih dari sekedar baik-baik saja. Terima kasih, Pencipta Semesta.

Alhamdulillah.

Lalu...
setelah ini Bari mau ke mana?

Kita lihat nanti ya :)

Credit to: @tunggilicious


Monday, 20 November 2017

Sama sekali kehendak Tuhan tak terkendali. Kemarin sahabat terkasih masih bercerita banyak hal, hari ini telah terbujur tak berdaya.

Air mata tak tertahan, sedih mendengarnya karena sahabat pergi dan tak mungkin kembali. Kepergiannya menoreh banyak kenangan indah meski selama ini cuma bercerita dalam jarak yang tidak dekat, namun hangatnya seperti tak berantara.

Tiap malam sahabat selalu hadir meski cuma lewat hp. Memang tanpa kata apalagi nasehat, cukup mengirim jam dan menit. Bagiku, kehadirannya sangatlah berarti, bukan sekedar membangunkan malamku dan silaturahim, tapi sebuah ungkapan kasih sahabat yang selalu berupaya membangkitkan kebaikan.

Cuma doa tulusku hai sahabat, mengiringi kepergianmu, semoga menambah kekuatan dan kemudahan bagimu yang sebenarnya bukan kepergianmu tapi kepulanganmu.
Aamiin.





© Pak Hanuri, teman Bapak.

Tuesday, 17 October 2017

Coming soon!


Oktober telah memasuki seperdua minggu terakhirnya, namun saya masih belum juga menamatkan gelar sarjana.

Sebentar,
jangan salah sangka.
Dalam tulisan ini saya tidak ingin mengeluh atau menuliskan kesedihan bahkan keluhan.
Melalui tulisan ini, saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan.
Atas keberlimpahan kebahagiaan yang Ia berikan.

Alhamdulillaah...
Saya masih diberi semangat menatap apa yang disebut harapan. Mengantongi apa yang dinyatakan sebagai kekuatan. Juga menyadari bahwa ada sekian banyak orang yang turut mendoakan.

Terima kasih telah menghadirkan kedua orang tua yang tidak pernah menuntut, meski saya sangat jauh dari kategori penurut.
Terima kasih, Allah, untuk kedua orang tua saya yang tidak pernah sedikit pun mengusik dan bertanya akan tugas akhir saya. Entah itu ditanya sampai mana, bab berapa, kapan sidang, kapan wisuda dan berbagai pertanyaan lainnya.
Terima kasih juga keluarga saya yang senantiasa mengirimkan doa.
Terima kasih telah begitu mengerti bahwa saya tidak senang ditekan, diburu-buru lagi dibanding-bandingkan. Alhamdulillaah, terasa amat melegakan.

Terima kasih pula untuk Bapak Ibu Dosen yang tiada hentinya menyapa dan bertanya diiringi tawa pun canda;
"loh kok saya belum lihat ada nama kamu di jadwal sidang?"
"sayang lho kalo kamu lama-lama, ayo dikejar temen-temennya. jangan terlena"
"kamu kapan barir? secepatnya ya"
"sudah sampai mana? kapan majunya?"
"loh.. udah pulang ya. kapan pulangnya?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tanda bahwa kalian semua menyayangi saya dan menginginkan yang terbaik untuk saya. Alhamdulillah, sedikit pun saya tidak merasa tertekan. Saya justru bahagia...

Juga dosen pembimbing yang senantiasa menguatkan saya untuk tidak menyerah dengan topik ini; yang rasanya kadang pingin ketawa sejadi-jadinya. Kenapa mau bunuh seekor tikus aja harus diam-diam menyelinap naik pesawat ruang angkasa. Beliau saja yakin saya bisa, Allah SWT juga tentunya.

Teman-teman dr kecil hingga kuliah yang luar biasa baiknya...
yang kadang-kadang bikin terharu karena perhatiannya,
tawaran bantuannya,
kebaikan hatinya,
dan doa-doa baiknya agar dapat segera tiba hari bahagia versi mereka untuk saya.

Ada yang meminjamkan kamar kosnya agar saya lebih fokus dan tidak perlu menempuh perjalanan panjang membelah jogja.
Ada pula yang sering bertanya sampai mana, ingin menemani saya berkelana.
Ada yang menawarkan bantuan desain, karena tahu kalau saya masih jauh dari kata "bisa".
Ada (bahkan banyak) yang menghujani pertanyaan, pernyataan, harapan dan bahkan permohonan untuk dikabari ketika hari itu datang. Hari yang mereka sebut sebagai hari kebahagiaan.
Ada lagi teman-teman sepermainan masa SMA yang masih dengan jahilnya mengkhawatirkan saya. Apakah Bari sudah berjalan sejauh yang mereka kira, karena Bari yang mereka kenal bukanlah sosok Bari yang dikenal oleh teman-teman kuliahnya. Lucunya...
Beberapa juga membercandai saya agar menyegerakan sebelum kota Jogja akan segera mereka tinggalkan.

I couldn't ask for more...

Terima kasih, terima kasih, terima kasih.
Saya nggak ngerti gimana menggambarkan rasa bahagia saya karena banyak orang-orang baik seperti mereka, Allah juga nggak henti-henti mengkaruniakan nikmatNya yang luar biasa.
Kalian semua adalah semangat saya, bahwa saya pasti bisa. Menyegerakan tanpa harus merasa tergesa-gesa, karena memang pada dasarnya... Saya tidak sedang bertanding dengan siapa-siapa, melainkan diri saya.

Dear all,
wait (and pray) for me ya.
Semoga,
secepatnya.

:)