Tuesday, 26 September 2017

Commuter Line dan Jakarta

 

Banyak orang merasa penat dengan hiruk pikuk kota Jakarta, lain halnya dengan saya yang terkadang justru menghampirinya. Disaat orang-orang berbondong mencari ketenangan ke kota lain ketika liburan datang, saya justru  mendatanginya untuk menemukan tenang versi saya.

Sore itu,
saya baru saja tiba di Stasiun Jatinegara dari Yogyakarta. Saya membaca beberapa update dari twitter @commuterline Jakarta bahwa ada kereta anjlok, sehingga jalur Jakarta Kota menuju arah Bogor disarankan untuk naik dari Stasiun Manggarai.
Terbayang sudah dalam imajinasi saya, seperti apa keramaian di Stasiun Manggarai nanti. Memang benar, ketika petugas menginformasikan kereta tujuan Bogor yang akan datang, semua orang berebut masuk. Bagaimana dengan saya? Saya tidak merasa terburu-buru sama sekali, saya justru menikmati rasanya mengantri dan menanti keadaan dalam kereta yang lebih manusiawi.

Tiba-tiba ada pengumuman kalau jalur 5, kereta akan berbalik arah menuju Bogor dan sepertinya tidak banyak yang notice akan hal itu. Saya pun siap-siap di jalur 5 dan benar saja, ketika masuk KRL... gerbongnya sepi! Saya masih dapat tempat duduk. Barulah beberapa saat kemudian orang-orang mulai masuk hingga sesak.

Setidaknya, atas ketidak-buru-buruan saya, tempat duduk berpihak pada pinggang ini hingga mendarat di Stasiun Lenteng Agung. Nggak kebayang kalau saya ikut berebut masuk ke KRL-KRL sebelumnya, apakah saya akan duduk manis sampai tujuan.

Layaknya hidup,
bukan soal siapa yang tercepat ataupun yang terhebat dalam melaju, namun bagaimana kita bisa menikmati setiap fase dalam hidup layaknya alunan lagu. Sekalipun... ketika sedang menunggu... karena yang pasti dalam hidup adalah ketidak-pastian akan zona waktu.

Saturday, 9 September 2017

Mengurus Paspor Hilang Setelah Kembali ke Indonesia

Rasanya berdosa sekali blog udah kayak sarang laba-laba karena lama nggak disentuh. Belakangan saya lebih senang nulis yang singkat-singkat di tumblr.

Jadi.. setelah beberapa saat yang lalu saya menceritakan pengalaman saya mengurus paspor hilang di Malaysia dalam Things You Should Do When You Lost Your Passport. Dalam tulisan ini saya akan menceritakan bagaimana lika-liku mengurus paspor setelah kembali ke Indonesia yang lagi-lagi diisi dengan drama hahahahaha.

Saya mengurus paspor hilang enam bulan setelah saya kembali ke Indonesia, ya, ENAM BULAN. Adalah kebodohan diri sendiri yang mengira jikalau paspor hilang bak STNK pun KTP hilang, yakni nomor ID nya akan tetap sama dan dapat diurus dengan mudah. Taraaa! Saya salah besar, sodara-sodara. Bersyukur sekali ada sahabat saya yang menanyakan apakah saya sudah mengurus paspor saya yang hilang atau belum.

Ceritanya saya sedang apply youth exchange program fully funded dari Kemenpora RI yang pada saat itu memasuki tahap FINAL. Untuk mengikuti tahap FINAL, yang merupakan tahap terakhir itu, peserta diminta untuk membawa fotocopy paspor atau setidaknya bukti pembayaran mengurus paspor secara walk-in. Saya masih santai-santai aja, karena saya pikir tinggal pakai scan-scan an paspor lama dan mengurus paspor kemudian. Beruntunglah sahabat saya memberi tahu jikalau nomor dalam paspor akan berganti apabila kita memperpanjang pun membuat baru. Sempurnanya lagi, hal itu baru saya ketahui di H-2 seleksi FINAL akan diselenggarakan. Yak, another journey will begin soon.

Saat itu juga, saya segera menyiapkan segala dokumen dan memutuskan kalau saya harus urus paspor esok hari. Karena jika tidak dan berkas saya tidak komplit, saya tidak akan bisa mengikuti seleksi FINAL. Alhamdulillah ada seorang teman yang mau ikut mengantri, kebetulan dia memang juga ingin bikin paspor. Berangkatlah kami sehabis subuh dan ternyata sudah mencapai nomor urut 40-an.  Di imigrasi Jogja, saya bertemu dengan beberapa teman seperjuangan seleksi yang sedang mengurus paspor juga.

Giliran nomor urut saya pun tiba, dan saya baru tahu ternyata jalur dan lokasi mengurus paspor baru & perpanjangan berbeda dengan mengurus paspor hilang.


Wednesday, 8 March 2017

Ketika Memilih Mau SMP di Mana


Saya tidak pernah membayangkan detik ini hubungan saya dengan para adik kelas SMP saya akan sedekat ini. Bisa dibilang, mereka adalah one call away support system sejauh ini. Terutama Abdus dan Fritz yang rela kapan aja direpotin serasa mereka adalah manusia paling selo. Juga teman-teman lainnya dengan segala kegilaan baru yang senantiasa muncul ketika kita semua berjumpa. Sungguh-sungguh melebihi ekspektasi saya mengingat saya awalnya bersekolah di SMP saya dengan perasaan terpaksa.

Bisa dibilang, setiap saya lulus dari suatu sekolah, akan ada mini drama di dalam rumah antara saya dengan kedua orang tua untuk menentukkan kemana kaki ini akan melangkah. Bagaimana nanti sekolahnya, apakah dapat asupan keagamaan, apakah bisa sampai sore dan berkegiatan positif, bagaimana teman-temannya, dan masih banyak lagi pertimbangan lainnya. Tidak terkecuali ketika saya akan melanjutkan pendidikan ke bangku SMP setelah lulus sekolah dasar.

Nilai UASDA saya memang tidak sesuai ekspektasi, tidak setinggi nilai-nilai latihan ujian yang pernah diadakan dinas kota maupun provinsi. Biarpun begitu, Alhamdulillaah, dengan nilai tersebut saya masih bisa masuk ke SMP-SMP favorit di jogja, yang mana salah duanya adalah sekolah dambaan saya. Ada dua SMP di Jogja yang paling saya inginkan; yang pertama, lokasinya di Terban. Saya ingin sekolah di sana, karena dulu, Almarhum Pakdhe saya mengajar di sana. Kedua, sekolah menengah pertama yang letaknya di Jalan Cik Di Tiro. Terkenal dengan kegiatan kepramukaan yang sudah sampai taraf ASEAN pada masa itu.

Sunday, 8 January 2017

Kepada bilangan yang tidak menemukan ujungnya,


Lilin menyala di malam penutupan Hakarya Eka Pakci



Kepada bilangan yang tidak menemukan ujungnya,
yang apabila diselami menjadi sedalam samudera,
melindungi keindahan mutiara yang berdiam di dalamnya.

Kepada rumah yang tidak pernah bosan membukakan pintu bagi para penghuninya,
yang menyimpan memori-memori lama menjadi prosa,
menggoreskan senyuman pada wajah para pemiliknya ketika kembali dibaca.

Kepada buku yang tiada habisnya bercerita,
ada saja kisah baru yang dapat ditulis dengan goresan tinta,
entah bahagia, duka, cita maupun cinta.

Kepada sarang yang tak pernah kesepian meski sering ditinggal sang empunya pergi berkelana,
yang tetap bersedia menyambut kapan saja,
ketika burung-burung itu merindunya.

Kepada yang berulang tahun,
selamat menginjak usia yang ke empat puluh tiga.
Semoga Pakci, semakin jaya.

Monday, 2 January 2017

A dream is a wish your heart makes


source: http://www.pixelstalk.net/dreamcatcher-wallpapers-hd/

I do believe that nothing is impossible in this world. If you still didn't believe that everything is possible, let's take a look back in 2016. Trump was chosen as American President, Miley Cyrus and Liam Hemsworth getting back together and Leonardo Dicaprio won the oscar for the first time. Some people think that all of that were impossible in the beginning, but can 't we see? The miracle happened, especially in hollywood life.

So we are.
If today we still feel like we are nothing and seem couldn't doing anything, prove yourself in the meantime you will do something great that give impact for others.

I can't believe my college year will find the ending soon and I will no longer have a class in the next semester. After about three years ago, I wondering could myself stay in this department, especially in this university? Could I made something precious, something worth it that could bring me somewhere I wanted to go after this phase? And now, the answer is yes. I can.

Day by day, I found the new Bari inside myself. Although I am no longer could be considered as an outgoing person like I used to be, I feel better right now. Some people in my high school wouldn't believe what miracle been happened in my university life and vice versa. Who will guess, Bari who is very very outgoing and active person in high school will look like an academic one in her college. Didn't join any organisation, but get along into laboratory assistant, competition and research project. Who will guess, Bari who is an adventurer when she were in high school will wears skirt everywhere and looks a little bit feminine for someone who didn't knew her well.

I failed a lot this year, especially in exchange and scholarship selection.. 2016 brings me to some places new. I went to several cities, with several competitions, met new people and gain so many positive vibes. Those competitions, my study, participation in social community, relationship with my relatives and  french course. I can't believe that I could make it balance through this year.  It was just exceed expectation, I couldn't ask for more. Alhamdulillaah, I am blessed.

I will entering my 8th semester in college soon. It means several months later I will got "ST" behind my name. I will doing my thesis. I will had a thesis defence and I will be graduated. Of course with a note: If I am struggling for it.

I know, there's some dreams that I haven't reach yet and targeting to get it within this year. And yeah, the choice is mine. Will I just sitting and dreaming or I am trying to seeking the way to go to a whole new world that I've dreaming of?

I hope the second one is me. :)