Monday, 11 December 2017

Circle


Selama 20+ tahun hidup, mungkin masih banyak hal yang saya belum tahu tentang orang-orang terdekat saya. Terlebih bapak, ibu, adik, keluarga saya, maupun teman-teman di sekeliling. Belakangan saya merasakan fenomena-fenomena (ceilah fenomena bahasanya wkwk) menyenangkan lagi mengagetkan.

Dimana ternyata saya sedang berteman dengan anak teman bapak saya, atau ternyata sahabat saya SD adalah putri dari sahabat ibu saya semasa SMA, adalagi saya bersahabat dengan kakak dari sahabat adik saya, dan bahkan ada hubungan pertemanan insidental tercipta karena intens chatting belakangan dengan dua orang teman yang ternyata keluarga kami bertiga berkerabat. Mengagetkan dan... nggak nyangka nggak sih?

Waktu emang berjalan lebih cepat dari yang kita bayangkan. Keinget banget dulu suka mandang murid-murid orang tua saya itu besar banget, berkeyakinan juga kalau suatu saat bukan ngga mungkin kalau murid dari beliau berdua adalah teman-teman saya... Ya, akhirnya beberapa tahun belakangan sampai beberapa tahun ke depan (bisa dibilang seumur hidup) saya akan mengalaminya.

Saya jadi mikir, berarti memang pada dasarnya kita-kita ini yang akan meneruskan hubungan-hubungan dengan kerabat keluarga kita, terutama orang tua kita.

Dua-tiga tahun belakangan, setiap saya keluar kota bapak saya selalu meminta saya mampir ke rumah seseorang entah itu keluarga, temannya atau kerabat keluarga. Untuk apa? Untuk menyambung tali silaturahim yang mulai mengendor karena waktu dan usia.

Bapak saya dan teman-teman beliau yang saya datangi memberikan pesan yang sama.. bahwa nanti memang ada masanya ketika raga sudah tak memungkinkan lagi untuk ke sana ke mari berjumpa, ada anak-anak yang bisa diutus datang semacam tombo kangen dan tukar informasi terkini. Sekarang saya jadi paham betul kalau hal-hal macam itu banyak sekali manfaatnya, saya jadi nggak canggung dengan teman-teman orang tua saya.

Mungkin juga.. nanti masih banyak lagi hal-hal seru di depan sana, yang lebih mengejutkan, orang baru yang ternyata masih berhubungan darah kah, teman yang ternyata saudara kah, partner kerja yang ternyata siapanya teman orang tua atau mungkin.... saya akan bertemu dengan jodoh saya dengan kejadian-kejadian unik macam ini. Hahahaha. Ngga ada yang tahu kan? :p

Yea. Hidup memang seru dengan segala dinamikanya.

Monday, 20 November 2017

Sama sekali kehendak Tuhan tak terkendali. Kemarin sahabat terkasih masih bercerita banyak hal, hari ini telah terbujur tak berdaya.

Air mata tak tertahan, sedih mendengarnya karena sahabat pergi dan tak mungkin kembali. Kepergiannya menoreh banyak kenangan indah meski selama ini cuma bercerita dalam jarak yang tidak dekat, namun hangatnya seperti tak berantara.

Tiap malam sahabat selalu hadir meski cuma lewat hp. Memang tanpa kata apalagi nasehat, cukup mengirim jam dan menit. Bagiku, kehadirannya sangatlah berarti, bukan sekedar membangunkan malamku dan silaturahim, tapi sebuah ungkapan kasih sahabat yang selalu berupaya membangkitkan kebaikan.

Cuma doa tulusku hai sahabat, mengiringi kepergianmu, semoga menambah kekuatan dan kemudahan bagimu yang sebenarnya bukan kepergianmu tapi kepulanganmu.
Aamiin.





© Pak Hanuri, teman Bapak.

Tuesday, 17 October 2017

Coming soon!


Oktober telah memasuki seperdua minggu terakhirnya, namun saya masih belum juga menamatkan gelar sarjana.

Sebentar,
jangan salah sangka.
Dalam tulisan ini saya tidak ingin mengeluh atau menuliskan kesedihan bahkan keluhan.
Melalui tulisan ini, saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan.
Atas keberlimpahan kebahagiaan yang Ia berikan.

Alhamdulillaah...
Saya masih diberi semangat menatap apa yang disebut harapan. Mengantongi apa yang dinyatakan sebagai kekuatan. Juga menyadari bahwa ada sekian banyak orang yang turut mendoakan.

Terima kasih telah menghadirkan kedua orang tua yang tidak pernah menuntut, meski saya sangat jauh dari kategori penurut.
Terima kasih, Allah, untuk kedua orang tua saya yang tidak pernah sedikit pun mengusik dan bertanya akan tugas akhir saya. Entah itu ditanya sampai mana, bab berapa, kapan sidang, kapan wisuda dan berbagai pertanyaan lainnya.
Terima kasih juga keluarga saya yang senantiasa mengirimkan doa.
Terima kasih telah begitu mengerti bahwa saya tidak senang ditekan, diburu-buru lagi dibanding-bandingkan. Alhamdulillaah, terasa amat melegakan.

Terima kasih pula untuk Bapak Ibu Dosen yang tiada hentinya menyapa dan bertanya diiringi tawa pun canda;
"loh kok saya belum lihat ada nama kamu di jadwal sidang?"
"sayang lho kalo kamu lama-lama, ayo dikejar temen-temennya. jangan terlena"
"kamu kapan barir? secepatnya ya"
"sudah sampai mana? kapan majunya?"
"loh.. udah pulang ya. kapan pulangnya?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tanda bahwa kalian semua menyayangi saya dan menginginkan yang terbaik untuk saya. Alhamdulillah, sedikit pun saya tidak merasa tertekan. Saya justru bahagia...

Juga dosen pembimbing yang senantiasa menguatkan saya untuk tidak menyerah dengan topik ini; yang rasanya kadang pingin ketawa sejadi-jadinya. Kenapa mau bunuh seekor tikus aja harus diam-diam menyelinap naik pesawat ruang angkasa. Beliau saja yakin saya bisa, Allah SWT juga tentunya.

Teman-teman dr kecil hingga kuliah yang luar biasa baiknya...
yang kadang-kadang bikin terharu karena perhatiannya,
tawaran bantuannya,
kebaikan hatinya,
dan doa-doa baiknya agar dapat segera tiba hari bahagia versi mereka untuk saya.

Ada yang meminjamkan kamar kosnya agar saya lebih fokus dan tidak perlu menempuh perjalanan panjang membelah jogja.
Ada pula yang sering bertanya sampai mana, ingin menemani saya berkelana.
Ada yang menawarkan bantuan desain, karena tahu kalau saya masih jauh dari kata "bisa".
Ada (bahkan banyak) yang menghujani pertanyaan, pernyataan, harapan dan bahkan permohonan untuk dikabari ketika hari itu datang. Hari yang mereka sebut sebagai hari kebahagiaan.
Ada lagi teman-teman sepermainan masa SMA yang masih dengan jahilnya mengkhawatirkan saya. Apakah Bari sudah berjalan sejauh yang mereka kira, karena Bari yang mereka kenal bukanlah sosok Bari yang dikenal oleh teman-teman kuliahnya. Lucunya...
Beberapa juga membercandai saya agar menyegerakan sebelum kota Jogja akan segera mereka tinggalkan.

I couldn't ask for more...

Terima kasih, terima kasih, terima kasih.
Saya nggak ngerti gimana menggambarkan rasa bahagia saya karena banyak orang-orang baik seperti mereka, Allah juga nggak henti-henti mengkaruniakan nikmatNya yang luar biasa.
Kalian semua adalah semangat saya, bahwa saya pasti bisa. Menyegerakan tanpa harus merasa tergesa-gesa, karena memang pada dasarnya... Saya tidak sedang bertanding dengan siapa-siapa, melainkan diri saya.

Dear all,
wait (and pray) for me ya.
Semoga,
secepatnya.

:)

Wednesday, 4 October 2017

Kembali ke Generasi 90-an: Drama Musikal Petualangan Sherina

Bintang bintang di langit
Menyimpan sejuta misteri
Berkedip-kedip, bermain mata
Seolah mengajak kita
Berkenalan lebih dekat

Generasi 90-an siapa yang tak kenal dengan film ini? Saya yakin, anak 90-an yang hidup di tempat dengan akses media yang mudah pasti tahu. Bahkan menurut saya, Petualangan Sherina merupakan salah satu film legendaris Indonesia. Mira Lesmana dan Riri Riza berhasil menciptakan karakter Sherina yang masih melekat diingatan para penontonnya. Ditambah lagi, kalau didengarkan benar-benar, soundtrack dari Petualangan Sherina itu deep meaning banget! 

Tuesday, 26 September 2017

Commuter Line dan Jakarta

 

Banyak orang merasa penat dengan hiruk pikuk kota Jakarta, lain halnya dengan saya yang terkadang justru menghampirinya. Disaat orang-orang berbondong mencari ketenangan ke kota lain ketika liburan datang, saya justru  mendatanginya untuk menemukan tenang versi saya.

Sore itu,
saya baru saja tiba di Stasiun Jatinegara dari Yogyakarta. Saya membaca beberapa update dari twitter @commuterline Jakarta bahwa ada kereta anjlok, sehingga jalur Jakarta Kota menuju arah Bogor disarankan untuk naik dari Stasiun Manggarai.
Terbayang sudah dalam imajinasi saya, seperti apa keramaian di Stasiun Manggarai nanti. Memang benar, ketika petugas menginformasikan kereta tujuan Bogor yang akan datang, semua orang berebut masuk. Bagaimana dengan saya? Saya tidak merasa terburu-buru sama sekali, saya justru menikmati rasanya mengantri dan menanti keadaan dalam kereta yang lebih manusiawi.

Tiba-tiba ada pengumuman kalau jalur 5, kereta akan berbalik arah menuju Bogor dan sepertinya tidak banyak yang notice akan hal itu. Saya pun siap-siap di jalur 5 dan benar saja, ketika masuk KRL... gerbongnya sepi! Saya masih dapat tempat duduk. Barulah beberapa saat kemudian orang-orang mulai masuk hingga sesak.

Setidaknya, atas ketidak-buru-buruan saya, tempat duduk berpihak pada pinggang ini hingga mendarat di Stasiun Lenteng Agung. Nggak kebayang kalau saya ikut berebut masuk ke KRL-KRL sebelumnya, apakah saya akan duduk manis sampai tujuan.

Layaknya hidup,
bukan soal siapa yang tercepat ataupun yang terhebat dalam melaju, namun bagaimana kita bisa menikmati setiap fase dalam hidup layaknya alunan lagu. Sekalipun... ketika sedang menunggu... karena yang pasti dalam hidup adalah ketidak-pastian akan zona waktu.