Saturday, 15 February 2014

Abu Vulkanik

Hai, Abu.
Sudah dua hari kamu kelihatan nyaman sekali mampir di kotaku. Kalau tidak salah, angin membawamu terhembus sampai Bandung juga ya? Subhanallaah sekali ya. Padahal dalam peta, Jogjakarta, Jawa Tengah maupun Bandung jauh jangkauannya dari Kediri. Malang (walau hanya sebagian sepertinya, yang aku maksud adalah daerah di mana saudaraku tinggal), yang jaraknya terhitung lebih dekat justru tidak terkena hujan abu layaknya di sini.

Abu,
aku sudah membersihkan sebagian jiwamu *halah* yang menempel di teras atas dan teras bawah rumahku. Ayahku juga telah membersihkan halaman depan rumah yang kamu hinggapi itu. Bahkan, tanaman-tanamanku yang tertutup rapi olehmu. Tapi..... baru saja aku pulang, kamu kembali mendiami tempat-tempat itu. Padahal jelas sekali tadi pagi aku dan ayahku sudah mengusirmu dari situ.

Abu,
tolong beritahu kami bagaimana cara memindahkanmu ke tempat yang lebih nyaman. Beritahu kami di mana tempat itu dan dengan kendaraan apa kami bisa memindahkanmu secara baik-baik. Kami ingin segera memulai aktivitas kami, Bu. Jalan raya dan bangunan-bangunan pun juga begitu.

Abu,
aku tidak sedikitpun menyalahkanmu kok. Aku hanya memohon supaya kamu mau dipindahkan; diusir dengan terhormat. Begitu, Bu. Semoga kamu mengerti ya. Oh iya, aku ingin berterimakasih padamu. Kalau tidak salah ingat, tanah yang terkena serpihanmu akan menjadi lebih subur kan ya? Untuk itu, terima kasih ya Bu telah mampir di tanah sekitarku.

Sepertinya ini juga pelajaran untuk kami semua, Bu. Banyak kan para petugas kebersihan entah di jalanan, sekolahan, kampus atau tempat-tempat lain yang sering berulang kali membersihkan tempat yang ia bersihkan hanya karena dikotori lagi oleh orang-orang yang tak merasa berdosa.

Misalnya pak-pak yang menyapu jalanan, banyak pengguna mobil atau motor yang seenaknya buang sampah sembarangan. Mereka melakukan itu seolah tak berdosa, mereka tidak tahu bagaimana pengorbanan pak-pak yang menyapu jalanan itu. Belum lagi cleaning service, banyak yang menginjak lantai dengan sepatu penuh lumpur. Padahal, baru saja dipel dengan kinclong. Kini, semua seakan diratakan untuk merasakan. Kamu yang sudah dibersihkan, dengan enaknya datang lagi dari atas genting dan pepohonan tinggi. Membuat kami semua harus membersihkanmu lagi, bahkan berulang kali. Semua memang ada hikmahnya ya, Bu.

Semoga saja kamu tidak lama-lama bernyaman ria di kotaku. Begitu juga dengan kota-kota lain yang sedang kamu kunjungi saat ini. Semoga keadaan kembali seperti semula agar aktivitas harian dapat terlaksana dengan baik. Aamiin.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya :)