Monday, 14 April 2014

Menulislah untuk Menolak Lupa


Aku pelupa. Makanya aku menulis. Supaya dengan membaca apa yang aku tulis, aku bisa mengingat apa yang pernah aku pikirkan, apa yang pernah aku lakukan apa yang pernah aku lihat, aku dengar dan aku rasakan. Aku pelupa. Mungkin karena aku tidak suka mengingat.
Membaca membuatku ingat, ingin mengingat, terlebih ingin belajar dari apa yang telah aku ingat, ingin lebih bersyukur lagi karena aku diberikan daya ingat. Aku pelupa. Mungkin aku pelupa yang tidak terlupakan, sebab aku tidak pernah lupa aku pelupa. Aku pelupa. Jika ada yang kau ingat dari kebaikanku, tolong ingatkan aku! Aku pelupa. 
-Zarry Hendrik
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” 
-Pramodya Ananta Toer 


Untuk siapapun, yuk mari mulai menulis. Kalau lagi bingung, sedih, senang, susah, haru biru dan segala perasaan yang kamu rasa menggebu dalam dirimu...tuliskanlah. Meski cuma dalam buku harian yang artinya untuk konsumsi pribadi, di note ponsel, di blog atau di manapun yang penting ditulis. Tulis semua itu saat sedang "berapi-api", saat perasaan itu masih benar-benar "kental". Jangan sampai kelewatan, karena perasaan nggak akan pernah hadir dengan persis sama. Untuk itu, tuliskanlah selagi kamu merasakannya.

Semua tulisan yang kamu buat bisa dijadikan kenang-kenangan ketika dewasa nanti. Betapa fase hidup itu ada polanya, ada naik turunnya. Begitu pula proses pergulatan emosi beserta cara dalam menyikapinya. Bisa juga dijadikan penolak lupa akan kejadian-kejadian yang bahkan kamu sendiri sulit untuk mengingatnya. Syukur-syukur beberapa bisa dipost di blog yang kamu punya dan bisa bermanfaat bagi yang baca. 

Menulis itu menyenangkan. Untuk itu....
Mari mencoba. :D

2 comments:

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya :)