Sunday, 4 May 2014

Tentang Sebuah Nilai


Belum lama ini saya baru saja menjalani pergantian semester, dari semester ganjil ke semester genap. Sudah menjadi hal yang wajar dari zaman SD hingga sekarang, bahwa pergantian semester identik dengan keluarnya nilai hasil belajar. Tidak jarang terlihat gurat wajah kesedihan dari beberapa orang dikarenakan hasil yang keluar tidak sesuai dengan usaha dan harapan. Begitu pula sebaliknya.

Dalam belajar setiap orang mempunyai cara dan gayanya masing-masing. Ada yang senang belajar sendiri, ada juga yang senang belajar kelompok dan lain sebagainya. Tidak jauh berbeda dengan belajar, setiap orang pun punya target nilai yang berbeda dan itu tergantung dengan apa yang ingin dicapainya. Sangat tidak bisa dibanding antara target orang yang satu dengan yang lain.

Lain target, lain pula kapasitas usaha. Orang yang realistis biasanya kalau punya target tinggi, kapasitas usahanya juga semakin tinggi. Untuk yang targetnya tinggi, tapi usahanya biasa-biasa aja sih... beda cerita. Karena memang begitu kebanyakan manusia, termasuk saya kadang-kadang juga begitu hehehe.

Selanjutnya: hasil. Ini adalah yang tidak selalu sesuai dengan ekspektasi. Bisa saja seseorang sudah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi hasil yang ia peroleh tidak sesuai dengan target. Sakit, memang. Tapi inilah hidup. Bukan selalu tentang apa yang kamu mau, tapi terkadang tentang bagaimana kamu menerima dan mengelola rasa kecewamu.


Tingkat kekecewaan orang pun berbeda-beda. Menurut saya pribadi, tiga hal tadi (target, usaha dan hasil) merupakan faktor-faktor pemicu besar kecilnya rasa kecewa yang ada. Namun tetap saja berbeda antara orang yang satu dengan yang lainnya meski target mereka sama. Di mana tidak setiap orang punya kestabilan emosi yang sama dalam menerima kenyataan.

Pada semester ganjil kemarin, ada seorang teman yang menargetkan A pada salah satu mata kuliah. Kenyataannya, nilai yang ia dapat adalah B. Dikarenakan di kampus saya ada kesempatan remidial, ia menggunakan kesempatan itu untuk memperbaiki nilai. Ia masih ingin memperjuangkan nilai A untuk mata kuliah tersebut.

Di sisi lain, ada seorang teman yang sudah berpuas diri mendapatkan nilai B. Ia tidak mengikuti remidial. Berbeda dengan teman saya yang sebelumnya, ia tidak punya target khusus untuk nilai mata kuliah tersebut. Asal tidak C ke bawah, ia sudah merasa aman dan senang.

Kemudian saya mendengar celetukan dari salah seorang teman yang lain. Celetukan itu berbunyi, "Gak bersyukur banget sih dia, udah dapet B diremed coba. Harusnya bersyukur, kasihan yang nilainya di bawahnya. Padahal banyak yang susah payah buat dapet nilai B." sempat dalam hati saya setuju dengan pendapatnya, namun kalau dipikir-pikir target setiap orang itu memang berbeda.

Coba analogikan nilai itu adalah sebuah handphone. Ada tipe orang yang secara terus menerus mengikuti gaya dan perkembangan teknologi. Setiap ada handphone dengan fitur yang lebih lengkap, ia mengganti yang sudah dimilikinya dengan handphone baru. Begitu seterusnya. Berbeda dengan orang yang kedua, ia bersusah payah menabung untuk membeli handphone. Ia membeli handphone seadanya yang penting bisa untuk komunikasi. Karena pada masa sekarang alat komunikasi seperti handphone sudah menjadi suatu kebutuhan.

Dalam kasus ini, apakah orang pertama peduli terhadap perjuangan orang kedua? Apakah kenyataan ada orang seperti orang kedua akan menyurutkan niatnya untuk terus mengikuti kemajuan teknologi yang ada? Kemudian, apakah biasanya orang kedua mengatai orang pertama tidak bersyukur? Apakah akan timbul rasa iri pada orang pertama?
Bagaimana jika keadaan berbalik: orang kedua menduduki posisi orang pertama, apakah ia akan bersikap sama seperti orang pertama? Ataukah ia akan merasa cukup dengan yang sudah ia punya?
Silakan temukan sendiri jawabannya. :)

Begitu pula dengan pejabat tinggi ataupun pengusaha yang sudah bergelimang harta. Mereka sudah memiliki mobil dan rumah mewah. Buktinya, tetap saja mereka mengejar materi dengan membeli mobil baru yang lebih bergengsi. Rumahnya terus-terusan direnovasi. Berlibur asik ke sana-sini. Sedang di tempat yang lain ada orang yang mau makan saja harus pontang-panting dengan susahnya. Tempat tinggal juga seadanya. Lalu, apakah orang yang sudah kaya tadi mau berpikir dua kali sebelum mengejar materi yang mereka damba? Bagaimana dengan pendapat kita yang hanya warga negara biasa-biasa saja? Pasti sudah kelihatan kan jawabannya. *wink*

Contoh yang lebih simpel; di rumah kamu punya berapa sepatu? Berapa tas? Berapa baju? Apakah kamu sudah merasa cukup dengan semua itu? Tidak adakah hasrat ingin membeli yang baru?
Saat hasrat ingin membeli yang baru muncul dalam hatimu (cieee hasrat muncul dalam hatimu), apakah kamu ingat kalau di luar sana banyak yang kesusahan mendapatkan apa yang kamu mau? Ketika ingat, apakah itu mengurungkan niatmu untuk membeli barang itu?
Lalu, kalau ada orang yang bisa lebih dari kamu dalam kepemilikan barang-barang itu bagaimana perasaanmu? Apakah biasanya kamu melabeli dia sebagai orang yang tidak bersyukur?
Terus, gimana kalau hal itu dibalik posisi. Orang yang kekurangan itu berada pada posisi orang yang berlebih. Apakah ia akan berlaku sama dengan orang yang berlebih itu atau tidak? Akankah dia membeli ini itu? Atau membatalkan hasratnya karena mengingat orang yang kekurangan? (njelimat amat ya)
Refleksikan sendiri jawabannya. Setiap orang beda-beda. ;)

Dari pertanyaan yang sama saja bisa ditemukan jawaban yang berbeda dari setiap orang...
Sepertinya amat sangat wajar apabila seseorang yang terbiasa punya target tinggi akan berusaha dan berlari lagi apabila target itu belum tercapai. Sudah biasa pula apabila seseorang sudah sangat berpuas diri dengan apa yang dicapai, meski itu tidak setinggi yang orang lain cari. Tidak ada kata salah dan benar dalam hal ini. Karena benar salah -nya hal macam ini itu... relatif, tergantung siapa yang menilai dan bagaimana sudut pandangnya.

Dari hal-hal tersebut dapat disadari bahwasannya setiap orang punya ambisi dan kepentingan yang berbeda. Setiap orang juga punya prinsip dan keyakinan masing-masing dalam menjalani kehidupan. Sudut pandang dan pola pikir mengenai suatu hal yang sama pun bisa berbeda. Dengan memahami perbedaan yang ada pada setiapnya akan meningkatkan kemampuan kita dalam toleransi dan menjauhkan diri dari sifat egois.
Meskipun itu hanya...
.
.
.
.
.
tentang sebuah nilai.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya :)