Monday, 19 May 2014

Ucapan Untuk Intan

” Good friends are like stars, you don’t always see them but you know they’re always there .”
- Old saying

***
Teruntuk sahabat kecilku;
Intan Nuria Maharani

Intan,
masih ingatkah kamu?
Lima belas tahun lalu kita masih senang-senangnya jadi anak-anak. Bermain ayunan bersama, menguras kolam renang TK, drama-drama-an Petualangan Sherina--Putri Hwang Tzu dan hal menyenangkan lainnya. Masa di mana setiap 16 Februari dan 19 Mei, kamu dan Putri mengingatkan aku untuk menambahkan sapaan "mbak" dalam menyebut nama kalian.
Hari kelulusan tiba.
Aku, kamu dan Putri tampil menarikan tarian A-BA-TA. Aku memegang huruf A, kamu huruf BA sedang Putri yang memegang huruf TA. Semua berjalan sebegitu cepatnya, kita harus berpisah. Bukan, bukan kita, melainkan aku, dan kalian. Kamu dan Putri tetap pada almamater yang sama, sedangkan aku… sendiri tanpa kalian. Aku harus mencari teman-teman baru, beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
-
Intan,
aku masih ingat.
Saat duduk di kelas 3 SD, kamu menelponku. Kamu menanyakan bagaimana hari-hariku dan apakah rambutku masih keriting. Kita ngobrol banyak kan Tan waktu itu? Kamu bilang, kamu dapat nomor rumah nenekku dari data buku tahunan TK yang ternyata aku tidak mendapatkannya.
Setelah kamu menutup telepon, tanteku bilang padaku jikalau sebelumnya hampir setiap hari kamu menelponku. Tetapi, aku sedang tidak berada disitu karena itu rumah nenekku. Betapa senangnya aku saat itu, Tan. Aku sempat menyesal. Kenapa aku tidak meminta nomormu agar bisa kutelepon jika sewaktu-waktu aku rindu. Atau memberitahumu nomor hp bapakku. Ah, betapa bodohnya aku.
Semua cerita itu.. sebelum kita benar-benar tak berkontak. Tidak lama setelah itu telepon rumah nenekku rusak. Terputuslah kontak. Satu pertanyaan dalam benakku saat itu: Apa kamu menelponku lagi, Tan?
-
Intan,
apa kamu juga ingat?
Lima tahun lalu aku mencarimu, mencoba menghubungimu, mengirim pesan ke nomor ponselmu dan menelponmu. Saat itu, kita berada di bangku kelas 3 SMP bukan? Kita sama-sama mendambakan berada di almamater yang sama untuk melanjutkan SMA. Tapi… sayangnya hanya aku yang berada di sana, sedangkan kamu akhirnya melanjutkan ke tempat yang berjarak 2-3 km dari aku. Beberapa kali kita berbicara dalam telepon hingga membuat rencana berjumpa yang selalu berakhir dengan wacana.

.
.
Tak disangka, akhirnya tiga tahun lalu kita bertemu.
Lucu memang, secara kebetulan aku mengambilkan tali pramukamu yang terjatuh saat kita sama-sama mengembara. Kamu mengenakan baju biru pecinta alammu, sedangkan aku memakai baju kuning menyala sanggaku. Aku yang masih malu, mengirimkan pesan untuk memastikan apakah itu kamu. Dan ternyata itu memang benar-benar kamu.
Kita masih kaku. Kamu dan aku yang masih terdiam tanpa kata padahal sudah jelas-jelas saling berhadapan di depan mata. Belasan pesan singkat kita pun menjadi saksinya.
Yang menyedihkan itu ketika tahun kedua mengembara, yang mana aku harus bahagia disela isak tangismu. Bukannya mendekatimu, aku justru memilih perlahan pindah beberapa langkah dari situ.
Intan, maafkan aku.
-
Intan,
tahun kedua sekolah menengah atas kita sudah saling menyapa bukan?
Kita sering berjumpa meski hanya sekedipan mata. Entah itu dalam pengembaraan seperti saat pertama bertegur sapa, pada lomba pleton inti yang kita sama-sama menjadi peserta. Pernah pula pada lomba pleton intin sekolahku, ketika kamu menjadi peserta sedang aku sebagai panitianya. Kamu yang menjadi danton dari pletonmu, memberi laporan padaku yang mendapat jobdesc menjadi pendamping penjaga pos saat itu.
.
.
Dan tepat satu tahun lalu, Tan.
Mendekati hari kelahiranmu yang ke delapan belas.
Sering kita bertegur sapa di bimbingan belajar dimana aku dan kamu setiap hari mendatanginya. Kita yang saat itu sama-sama berharap dapat berada dalam almamater yang sama. Bahkan di fakultas yang sama pula. Pilihan kedua (atau ketiga) kita pun sama. Dimana aku masih ingat benar, dulu kita pernah melewati fakultas itu dengan bus kota saat kegiatan TK. Sadar atau tidak, dulu kita sama-sama berkata ingin berada di sana, yang kini akhirnya terbawa.
Tapi lagi-lagi Allah belum menghendaki, Tan.
Kamu berhasil menggapainya meski bukan pada pilihan pertama, sedangkan aku..terpisah 15 kilometer jauhnya dari situ. Lagi-lagi kamu dan Putri satu almamater, kemudian aku… harus terpisah lagi dari kalian. Yang terkadang aku berharap, aku bisa bersama-sama lagi dengan kalian, Tan. 
-
Intan,
Percaya atau tidak….
rasa ingin bertemu masih terus tumbuh seiring tumbuhnya aku. Dalam diam, aku sering berharap agar kita bisa sekedar bertemu tanpa ada rasa kaku; tidak bingung untuk berbicara ini itu.
Aku memang sedikit muluk, Tan. Bertemu kamu saja terkadang bisa sebegitu susahnya mau melontarkan kata dan ujung-ujungnya hanya sekedar bertegur sapa. Lalu bagaimana bisa mau bercengkrama untuk waktu yang lama? Ada-ada saja. Haha.
.
.
.
Empat sampai lima tahun lagi akan lebih banyak yang berubah dari kita. Entah sudah bekerja, maupun sudah berkeluarga. Berubah dan berbeda itu adalah suatu hal yang pasti, tapi semua kembali lagi ke bagaimana diri kita dalam menyikapi. Apapun bentuknya nanti, semoga komunikasi di antara kita akan tetap terjaga hingga nanti ya, Intan Nuria Maharani.


-
Semoga kamu akan tetap menjadi kamu, menjadi orang yang berguna dan dicintai oleh orang-orang di sekitarmu, menjadi insinyur yang baik untuk Indonesia di masa depan dan senantiasa dilancarkan oleh-Nya dalam segala urusan dunia maupun akhirat. Semoga kita tetap bisa dekat, walau hanya lewat doa yang senantiasa terpanjat. Meski semua tidak terlihat itu bukan sebagai penghambat.

Dengan rindu yang semakin merambat,
selamat ulang tahun, Sahabat.


--------
Siti Bariroh Maulidyawati edisi melankolis. Yak......... Aku baper abis euy. (baper=bawa perasaan). Mohon dimaklumi ya kalau rada alay dan berlebihan

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya :)