Tuesday, 26 August 2014

Menilik Sejarah Pos di Museum Pos Indonesia

Lorong masuk Museum Pos Indonesia



Memasuki ruangan menuruni tangga nan sepi.

Kotak pos jaman dahulu

Ilustrasi interaksi Pak Pos dengan pengirim/penerima surat. (gak fokus karena diambil sambil merinding)

Timbangan paket jaman dulu.

Ruang perangko dan kartu pos dari berbagai negara.

Beberapa penghargaan dan bendera negara anggota pos dunia.

Suatu sudut di dalam museum.

Para Bapak Pos Indonesia dari yang pertama hingga yang sekarang.

Lorong memasuki sejarah pos pada masa kerajaan dan penjajahan. (serius, ini merinding banget lewat sini)

Sejarah pos pada masa kerajaan-kerajaan dan penjajahan. Dalam bahasa Inggris&Indonesia, ada pula yg basa Jawa.

Museum Pos Indonesia terletak di Jalan Cilaki, Bandung. Tepat bersebelahan dengan Kantor Pusat PT POS Indonesia yang letaknya di sebelah Timur Gedung Sate. Tidak hanya Kantor Pusat PT POS dan Museum POS Indonesia saja yang ada di Kota Bandung, namun Kantor Pos Pusat Indonesia pun juga terletak tidak jauh dari dua tempat ini. Masih dalam satu lingkungan.

Museum Pos sendiri berisi tentang sejarah asal mula Pos Indonesia. Bagaimana komunikasi tertulis bisa digunakan di Indonesia setelah sebelumnya hanya menggunakan komunikasi lisan. Semua berawal dari masa jayanya kerajaan Hindu-Budha dan kerajaan Islam di Indonesia. Dulu awalnya hanya melalui perantara salah satu perwakilan kerajaan yang berjalan kaki atau berkuda menuju kerajaan lain untuk surat menyurat menyampaikan informasi. Hingga pada masa penjajahan Inggris, Belanda yang akhirnya mengenal sistem pos. Ada pula surat-surat peninggalan sejarahnya yang diabadikan di dalam museum ini. Surat-surat bersejarah itu tersedia dalam dua bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris. Ada pula yang basa Jawa dan masih ditulis latin!

Di dalamnya juga terdapat barang-barang Pos bersejarah yang sudah tidak digunakan lagi, misalnya: kotak pos jaman dulu, bantalan cap yang pertama digunakan, cap-cap pos, karung yang dahulu digunakan untuk menampung surat, perangko-perangko, miniatur kantor pos pertama kali dan masih banyak lagi.

Dulu pos merupakan sarana komunikasi yang digemari, bahkan sampai ada istilah yang namanya sahabat pena. Namun, di masa sekarang, penyampaian pesan ataupun komunikasi melalui pos sudah berkurang karena teknologi yang sudah canggih. Sudah jarang pula saling berkirim surat antar saudara, teman dan rekan kerja. Semua lebih memilih menggunakan ponsel maupun internet yang tergolong lebih cepat dan praktis. Untuk siapa saja yang masih ingin berkirim pos, bertukar perangko unik dan kartu pos dari segala kota pun dunia, bisa loh bikin akun cardtopost. Info lengkapnya bisa dibuka di website cardtopost.

Sayang sekali, museum sebagus ini sepi pengunjung. Bahkan ketika saya masuk ke dalamnya hanya ada saya berdua dengan teman saya saja yang menjadi pengunjung. Sebelum saya masuk pun hanya ada tiga turis asing yang baru saja keluar dari dalam museum. Sepertinya minat wisata museum di kalangan wisatawan domestik masih rendah.

-
Bagi yang ingin mengunjungi Museum Pos Indonesia, cukup mengisi buku tamu saja. Kemudian bisa bebas masuk berkeliling. Biaya yang dikeluarkan hanya cukup Rp 2000 untuk parkir kendaraan dan jam bukanya sama seperti jam kerja.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya :)