Thursday, 4 September 2014

Dibalik Tanpa Suara

Dua hari yang lalu, salah seorang teman saya harus kembali ke Malaysia karena liburannya sudah selesai. Saya ikut mengantarnya ke Bandara. Ketika teman saya sedang check in, saya diajak ngobrol oleh Ayahnya. Hanya berawal dari bertanya nama dan di mana saya kuliah hingga pada akhirnya merembet ke topik makna hidup.

Satu hal yang paling saya ingat, yaitu cerita beliau ketika bertemu dengan tuna netra. Beliau bilang, kalau tuna netra itu sebenarnya beruntung dan mempunyai kenikmatan yang besar. Kenapa? Sadar atau tidak, bahwasannya banyak zina dan kemaksiatan yang bersumber dari mata. Dengan ketidakmampuan orang tersebut untuk melihat, Tuhan ingin melindungi dia dari kemaksiatan yang bersumber dari pengihatan. Di akhirat kelak sang mata tidak perlu memberi kesaksian akan dosa yang diperolehnya.

--

Hari ini, saya dapat bonus pelajaran lagi. Alhamdulillah.
Kebetulan sudah hampir tiga minggu saya mengisi liburan dengan ikut volunteering di Festival Kesenian Yogyakarta. Tadi, divisi saya mengadakan lomba melukis untuk remaja yang pesertanya beragam. Beberapa diantara mereka adalah anak dengan kebutuhan khusus.


Ketika lomba sudah selesai, Mas Wahyu-teman satu divisi saya-memanggil saya. Dia meminta saya menemani beberapa anak tuna wicara karena guru mereka sedang ada acara. Namun, anak-anak ini kurang bisa bahasa isyarat yang berupa ejaan. Mereka lebih terbiasa menggunakan bahasa isyarat yang berupa kosakata. Pantas saja saya sudah mencoba menggerak-gerakkan tangan, tapi mereka tidak paham.

Saya pun mengambil ponsel dan mengetikkan beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Kami berkenalan. Mereka bernama Luluk, Gadang dan Heri. Luluk masih duduk di kelas 1 SMP, Gadang kelas 3 SMP, sedang Heri kelas 2 SMP. Berkali kali kami oper-operan hp untuk berbicara tanpa suara dengan beberapa kali Luluk mencoba juga berbicara dengan ejaan alphabet. Sepanjang bercengkrama dalam diam saya merasa betapa ribetnya apabila ingin melontarkan kata, tapi apadaya. Lawan bicara kita tidak paham dengan apa yang kita sampaikan. Perlu kesabaran untuk menyelaraskan semua kata.

Tak lama kemudian, datang sepasang laki-laki dan perempuan. Yang belakangan saya tahu bahwa mereka adalah pasangan suami istri. Pengantin baru. Menyenangkan sekali melihat semangat mereka dalam menceritakan hal yang saya juga kurang paham kepada yang lain. Mereka sangat antusias, apalagi mengajak ngobrol saya dan teman saya.

Saya bersyukur sekali, selama sembilan belas tahun hidup sudah dikarunia nikmat lima indera yang sempurna. Saya masih bisa berbicara, mendengar dan berkomunikasi dengan baik. Di sisi lain, saya ingat percakapan saya dengan Ayah teman saya saat di Bandara akan nikmat lain yang terlihat seperti ketidaknikmatan. Tuna wicara misalnya.

Dibalik ketidakmampuan mereka untuk melontarkan kata pun bersuara, Tuhan memberikan nikmat tak terkira untuk mereka semua. Ada dua lubang paling berbahaya, salah satunya adalah mulut. Banyak sekali dosa yang berasal dari mulut, dari perkataan. Baik itu sengaja ataupun tidak. Kita yang bisa berbicara masih sering kali menggunakan kemampuan kita untuk hal-hal kurang baik lagi merugikan diri sendiri dan orang lain. Betapa sayangnya Tuhan dengan mereka, Tuhan menghindarkan mereka dari dosa-dosa yang berasal dari terlontarnya kata. Mereka dihindarkan dari menghina, merendahkan orang, menggosip dan masih banyak lagi dosa-dosa lain yang besumber dari bicara.

Sungguh Tuhan itu adil. Banyak sekali nikmat yang telah diberikan kepada hambaNya, dengan cara yang terkadang tidak mudah untuk dimengerti. Saya jadi bertanya pada diri sendiri: apakah selama ini saya telah mendustakan banyak kenikmatan yang saya punya? Sudahkah saya menggunakan dan menjaga nikmatNya dengan sebaik-baiknya? Astaghfirullah.

Tuhan selalu adil dalam porsi dan cara yang sulit manusia pahami. Tetap saja ada hikmah yang amat indah dibalik menjalani hidup tanpa suara. Banyak sekali pelajaran berharga yang ada di sekeliling. Semoga kita semua dapat lebih bijak dalam memandang setiapnya.

Terima kasih Ayahnya Febi & teman-teman dari SLB yang sudah menginspirasi.

4 comments:

  1. "Tuhan selalu adil dalam porsi dan cara yang sulit manusia pahami" keren.. (y)

    ReplyDelete
  2. Aku suka tulisanmu Bar, pengalamanmu itu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Dewanti! :)
      Btw mau dong diajarin bikin header yg kece tp simpel kaya punyamu

      Delete

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya :)