Friday, 25 April 2014

Mengejar Matahari Terbit: Punthuk Setumbu

AND FINALLY!
....here we go.
Punthuk Setumbu. Adalah sebuah bukit yang terletak 4 kilometer di sebelah Barat Candi Borobudur. Sunrise Setumbu sudah tidak asing lagi bagi para wisatawan, baik domestik maupun wisatawan asing. Pemandangannya pun tak diragukan lagi. Kita bisa melihat matahari menampakkan diri ditambah dengan Gunung Merbabu Merapi yang membentang tinggi dan stupa Borobudur yang nampak kecil sekali.
Selebihnya dapat dilihat pada gambar-gambar berikut ini...

before sunrise.


Mengejar Matahari Terbit


Jadi, Jum'at malam.
Semua berawal dari ajakan dadakan Wira'i pukul sembilan malam, ketika saya dan Novi sedang mengerjakan tugas bersama. Pertamanya hanya berempat: saya, Wira'i, Novi dan Bagas (tetangga Wira'i). Kemudian Azka dan Sadida juga ikut, menambah suara tawa dan canda. :D

Kami berangkat dari Jogjakarta dikala pagi buta, jalanan masih sangat sepi. Tentu saja sudah dapat dipastikan apa yang kami cari: pemandangan munculnya matahari. Sunrise. 
Jemput menjemput, tunggu menunggu, mencaci maki, hingga misuh misuh antara Azka dan Wira'i nampaknya merupakan hal yang sangat wajar bagi kami. Hingga setelah satu jam lebih perjalanan, kami tiba di sini...


Best buddies.
Escape mate. Wqwq.
Ke mana sebenarnya kami? Baca lanjutan post yang satu ini! :>

Sunday, 20 April 2014

Kesempatan by Kurniawan Gunadi

Setiap orang yang lahir di dunia ini memiliki kesempatan yang berbeda, dalam banyak hal. Dan sungguh, sangat tidak bijaksana jika kita saling membandingkan dan mengukur kesempatan orang lain dengan kesempatan yang kita miliki.

Ada orang yang memiliki kesempatan sekolah di kampus besar, kampus terbaik di negeri ini. Sering bertemu dengan orang penting sekelas menteri atau seorang tokoh yang kemudian mengisi kuliah umum. Hingga pada akhirnya, bertemu dengan orang sekelas tersebut rasanya biasa-biasa saja. Sungguh, tidak bagi teman kita yang lain. Kesempatan seperti itu mungkin belum pernah dia temui. Dia tidak memiliki akses untuk itu, untuk bertemu dengan para tokoh penting di negeri ini. Sekalinya bertemu, perasaan bahagianya begitu meluap dan kita memandangnya begitu heran, terkesan ‘norak’. Sekali lagi, sungguh tidak bijaksana bila kita membandingkan kesempatan.

Ada orang yang memiliki kesempatan untuk sekolah di luar negeri. Di kampus terpilih dan gratis. Sempat berkeliling di negara-negara sekitarnya. Mungkin, kita adalah orang yang tidak memiliki kesempatan itu sebab keterbatasan kita. Entah itu akses, atau nilai akademis kita yang tidak memenuhi. Rasanya, begitu membanggakan bisa berfoto di padang salju atau di bangunan landmark negara-negara itu. Lalu, kita mulai membandingkan kesempatan yang kita miliki dengan mereka. Rasanya sedih sekali, saat itu sesungguhnya kita sedang tidak adil pada diri sendiri. Sungguh, di dunia ini kesempatan setiap orang tidaklah sama.

Apakah kesempatan itu bisa diciptakan? Atau ia datang tanpa kita tahu kapan datangnya. Aku sendiri tidak tahu. Hanya saja, semua hal mungkin terjadi sejauh manusia mau mengusahakannya.

Kesempatan yang kita miliki saat ini, lihatlah dengan lebih teliti. Apakah kita mengambilnya dan berperan baik di sana atau justru hanya melihat atau menyesali dan sibuk membandingkan dengan kesempatan orang lain. Atau jika kita sedang memiliki kesempatan besar lalu begitu rendah memandang orang lain yang tidak memiliki kesempatan sebaik kita.

Kesempatan dalam banyak hal, tidak hanya masalah sekolah. Tapi juga karir dan pekerjaan, teman yang luar biasa, jaringan yang luas, akses ke luar negeri yang mudah, apapun itu.

Semakin pandai kita menempatkan diri dalam hidup ini. Semakin pandai kita mensyukuri pemberian-Nya, maka Dia akan menambahkan nikmat yang lebih. Dan sungguh, kenikmatan yang menurut saya paling menyenangkan adalah ketenangan hati. Hilangnya resah dan kekhawatiran :)

Kita tidak perlu lagi khawatir pada kesempatan kita yang berbeda. Tidak lagi sibuk mengukur hidup sendiri dengan orang lain dan dibuat resah karenanya. Hidup kita adalah yang terbaik untuk kita. Kesempatan kita adalah kesempatan yang terbaik untuk kita.
Rumah, 19 April 2014 | (c)kurniawangunadi
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Que sera sera. What will be, will be.

Monday, 14 April 2014

Menulislah untuk Menolak Lupa


Aku pelupa. Makanya aku menulis. Supaya dengan membaca apa yang aku tulis, aku bisa mengingat apa yang pernah aku pikirkan, apa yang pernah aku lakukan apa yang pernah aku lihat, aku dengar dan aku rasakan. Aku pelupa. Mungkin karena aku tidak suka mengingat.
Membaca membuatku ingat, ingin mengingat, terlebih ingin belajar dari apa yang telah aku ingat, ingin lebih bersyukur lagi karena aku diberikan daya ingat. Aku pelupa. Mungkin aku pelupa yang tidak terlupakan, sebab aku tidak pernah lupa aku pelupa. Aku pelupa. Jika ada yang kau ingat dari kebaikanku, tolong ingatkan aku! Aku pelupa. 
-Zarry Hendrik
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” 
-Pramodya Ananta Toer 


Untuk siapapun, yuk mari mulai menulis. Kalau lagi bingung, sedih, senang, susah, haru biru dan segala perasaan yang kamu rasa menggebu dalam dirimu...tuliskanlah. Meski cuma dalam buku harian yang artinya untuk konsumsi pribadi, di note ponsel, di blog atau di manapun yang penting ditulis. Tulis semua itu saat sedang "berapi-api", saat perasaan itu masih benar-benar "kental". Jangan sampai kelewatan, karena perasaan nggak akan pernah hadir dengan persis sama. Untuk itu, tuliskanlah selagi kamu merasakannya.

Semua tulisan yang kamu buat bisa dijadikan kenang-kenangan ketika dewasa nanti. Betapa fase hidup itu ada polanya, ada naik turunnya. Begitu pula proses pergulatan emosi beserta cara dalam menyikapinya. Bisa juga dijadikan penolak lupa akan kejadian-kejadian yang bahkan kamu sendiri sulit untuk mengingatnya. Syukur-syukur beberapa bisa dipost di blog yang kamu punya dan bisa bermanfaat bagi yang baca. 

Menulis itu menyenangkan. Untuk itu....
Mari mencoba. :D

Saturday, 5 April 2014

untitled


Tidak perlu aku berkelana ke tempat-tempat yang dianggap surga dunia. Tak perlu aku memaksa memasuki bangunan-bangunan yang diagungkan layaknya istana. Tak perlu pula aku hidup bergelimang harta, hanya untuk... merasakan bahagia. Karena bersama mereka dan berada di sekelilingnya, aku dapat merasakan... 



bahagia dengan sederhana. :)