Friday, 23 May 2014

Do you?

Every man has reminiscenes which he would not tell to everyone but only to his friends. He has other matters in his mind which he wouldn't reveal even to his friends, and that in secret. But there are other things which a man is afraid to tell even to himself, and every decent man has a number of such things stored away in his mind. 
Fyodor Dostoevsky, Notes from Underground 

Monday, 19 May 2014

Ucapan Untuk Intan

” Good friends are like stars, you don’t always see them but you know they’re always there .”
- Old saying

***
Teruntuk sahabat kecilku;
Intan Nuria Maharani

Intan,
masih ingatkah kamu?
Lima belas tahun lalu kita masih senang-senangnya jadi anak-anak. Bermain ayunan bersama, menguras kolam renang TK, drama-drama-an Petualangan Sherina--Putri Hwang Tzu dan hal menyenangkan lainnya. Masa di mana setiap 16 Februari dan 19 Mei, kamu dan Putri mengingatkan aku untuk menambahkan sapaan "mbak" dalam menyebut nama kalian.
Hari kelulusan tiba.
Aku, kamu dan Putri tampil menarikan tarian A-BA-TA. Aku memegang huruf A, kamu huruf BA sedang Putri yang memegang huruf TA. Semua berjalan sebegitu cepatnya, kita harus berpisah. Bukan, bukan kita, melainkan aku, dan kalian. Kamu dan Putri tetap pada almamater yang sama, sedangkan aku… sendiri tanpa kalian. Aku harus mencari teman-teman baru, beradaptasi dengan lingkungan yang baru.
-
Intan,
aku masih ingat.
Saat duduk di kelas 3 SD, kamu menelponku. Kamu menanyakan bagaimana hari-hariku dan apakah rambutku masih keriting. Kita ngobrol banyak kan Tan waktu itu? Kamu bilang, kamu dapat nomor rumah nenekku dari data buku tahunan TK yang ternyata aku tidak mendapatkannya.
Setelah kamu menutup telepon, tanteku bilang padaku jikalau sebelumnya hampir setiap hari kamu menelponku. Tetapi, aku sedang tidak berada disitu karena itu rumah nenekku. Betapa senangnya aku saat itu, Tan. Aku sempat menyesal. Kenapa aku tidak meminta nomormu agar bisa kutelepon jika sewaktu-waktu aku rindu. Atau memberitahumu nomor hp bapakku. Ah, betapa bodohnya aku.
Semua cerita itu.. sebelum kita benar-benar tak berkontak. Tidak lama setelah itu telepon rumah nenekku rusak. Terputuslah kontak. Satu pertanyaan dalam benakku saat itu: Apa kamu menelponku lagi, Tan?
-
Intan,
apa kamu juga ingat?
Lima tahun lalu aku mencarimu, mencoba menghubungimu, mengirim pesan ke nomor ponselmu dan menelponmu. Saat itu, kita berada di bangku kelas 3 SMP bukan? Kita sama-sama mendambakan berada di almamater yang sama untuk melanjutkan SMA. Tapi… sayangnya hanya aku yang berada di sana, sedangkan kamu akhirnya melanjutkan ke tempat yang berjarak 2-3 km dari aku. Beberapa kali kita berbicara dalam telepon hingga membuat rencana berjumpa yang selalu berakhir dengan wacana.

Friday, 9 May 2014

Another Random Post(s)

Sadar atau tidak,
perkataan dan perlakuan kalian sepuluh tahun lalu, telah membentuk aku yang sekarang. Perkataan dan perlakuan kalian terhadapku hari ini pun akan membentuk diriku di sepuluh tahun lagi.

Untuk itu, aku ingin berterima kasih atas segala kata yang pernah terlontar dan perlakuan yang telah kalian berikan. Terima kasih atas bangunan tahan tempaan buatan kalian.

Semoga, semakin besar hal yang kalian serukan semakin bertambah pula kemampuan untuk bertahan. Dan aku tidak perlu lagi mempertanyakan apa sebenarnya yang disebut dengan kebenaran. Karena kebenaran yang mutlak hanyalah dimata Tuhan.

Sunday, 4 May 2014

Tentang Sebuah Nilai


Belum lama ini saya baru saja menjalani pergantian semester, dari semester ganjil ke semester genap. Sudah menjadi hal yang wajar dari zaman SD hingga sekarang, bahwa pergantian semester identik dengan keluarnya nilai hasil belajar. Tidak jarang terlihat gurat wajah kesedihan dari beberapa orang dikarenakan hasil yang keluar tidak sesuai dengan usaha dan harapan. Begitu pula sebaliknya.

Dalam belajar setiap orang mempunyai cara dan gayanya masing-masing. Ada yang senang belajar sendiri, ada juga yang senang belajar kelompok dan lain sebagainya. Tidak jauh berbeda dengan belajar, setiap orang pun punya target nilai yang berbeda dan itu tergantung dengan apa yang ingin dicapainya. Sangat tidak bisa dibanding antara target orang yang satu dengan yang lain.

Lain target, lain pula kapasitas usaha. Orang yang realistis biasanya kalau punya target tinggi, kapasitas usahanya juga semakin tinggi. Untuk yang targetnya tinggi, tapi usahanya biasa-biasa aja sih... beda cerita. Karena memang begitu kebanyakan manusia, termasuk saya kadang-kadang juga begitu hehehe.

Selanjutnya: hasil. Ini adalah yang tidak selalu sesuai dengan ekspektasi. Bisa saja seseorang sudah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi hasil yang ia peroleh tidak sesuai dengan target. Sakit, memang. Tapi inilah hidup. Bukan selalu tentang apa yang kamu mau, tapi terkadang tentang bagaimana kamu menerima dan mengelola rasa kecewamu.