Monday, 27 October 2014

#HariBloggerNasional

Katanya, hari ini adalah #HariBloggerNasional. Mumpung tugas-tugas saya sudah menipis, dan saya sedang ingin rehat sejenak dari belenggu akademik perkuliahan... Saya ingin meramaikan posting tentang Hari Blogger Nasional.

Blog ini saya buat pada tahun 2009, saat itu untuk memenuhi tugas pelajaran TIK waktu SMP. Masih ada posting-posting random ketika awal-awal menggunakan blog, yang mana masih sedemikian rupa. Sudah lima tahun menjadi blogger abal-abal, saya merasakan bahwa menulis itu memang merupakan sebuah proses. Menulis itu bukan sesuatu yang instan. Saya rasa ini berlaku untuk banyak blogger. Kalau tidak percaya, coba perhatikan saja para blogger aktif. Baca posting mereka dari tahun ke tahun, saya yakin kamu akan menemukan perbedaan. Kamu akan melihat proses dan perkembangan gaya bahasa maupun penyusunan kalimatnya.

Dari tahun 2009-2014, memang ada beberapa posting yang saya hapus dari tampilan. Banyak pertimbangan kenapa saya menghapusnya. Misalnya ada foto saya ketika tidak menggunakan jilbab, ada kata-kata yang seharusnya tidak dikeluarkan, dan...ada posting yang menyebabkan salah paham. Alasan yang terakhir ini aneh dan nyata.

Saya pernah kena masalah hanya karena curahan hati iseng-iseng. Memang sih, saya terkadang menjadikan blog sebagai salah satu media katarsis, jadi kalau ada postingan tersirat semi curhat itu sesuatu yang lumrah. Kalau ada orang yang tahu apa yang saya maksud, itu bukan masalah bagi saya. Masalahnya buat yang baca dan tau dong :p Waktu itu viewer blog saya pada posting itu meningkat tajam. Mungkin curahan hati saya ketika itu dianggap salah. Padahal saya merasa kalau saya tidak melanggar norma apapun, saya juga tidak membeberkan rahasia apapun.

Ketika itu saya merasa, bahwa saya sudah meminimalisir fakta dibalik kalimat saya. Saya sudah membiaskannya sejauh mungkin. Saya juga tidak mengungkapkan curahan hati saya secara gamblang. Sama sekali. Bahkan sesaat sebelum saya menghapus posting saya saat itu, sempat saya meminta salah seorang teman dekat saya untuk membacanya. Kemudian saya bertanya, "Menurutmu, ini maksudnya apa? Kamu ngerti nggak apa yang aku maksud ditulisan ini?". Teman saya membaca, kemudian menggeleng. Dia hanya menjawab, "Aku nggak tau, Bar maksudnya apa. Cuma sepenangkapanku sih kamu trauma sama sesuatu yang bikin kamu pingin cepet-cepet skip."

Saya tetap menghapusnya. Saat itu, saya nggak mau memperburuk keadaan. Saya tidak bermaksud untuk menyalahkan siapapun atau pihak manapun. Yang saya ingin tekankan adalah, persepsi setiap orang dalam memandang sebuah tulisan itu berbeda. Pendirian orang pun juga berbeda-beda, ada yang mudah terprofokasi dan ada yang tidak. Karena ketika itu saya merasa ada profokasi dari pihak tertentu yang menggemborkan tulisan saya dalam satu malam. Tenang saja, itu nggak salah kok. Menurut saya, kejadian tersebut merupakan salah satu sarana pendewasaan bagi para pelaku. Begitu juga dengan saya.

Saya jadi belajar sabar yang sebenarnya itu bagaimana, ngerem amarah itu betapa susahnya, dan yang paling penting diam. Diam itu memang emas untuk hal-hal macam ini. Karena waktu yang akan menjawab bagaimana sosok-sosok yang ada di sekitar secara sebenar-benarnya. Termasuk saya, karena saya terbukti labil. Pada masa itu saya masih benar-benar remaja ABG yang menjadikan dunia maya sebagai media katarsis. Dimana saya merasa bebas untuk mengekspos emosi saya.

Biarlah kejadian-kejadian lucu hingga sendu yang tercipta dari postingan sadar saya di konten ini menjadi pelajaran berharga. Menjadi salah satu cerita seru untuk suami dan anak-anak di masa depan. Menjadi sebuah pelajaran berharga yang tidak tergantikan. Karena... menyeramkan. Kalau ada yang tersinggung, mohon dimaafkan. :p

Ini ceritaku. Mana ceritamu?

---

Semoga kedepannya akan ada tulisan-tulisan yang lebih bermutu dan bermanfaat bagi para blog walker dan followers di blog ini. Semoga pemiliknya juga bisa konsisten untuk terus berproses dan belajar. Selamat Hari Blogger Nasional!


p.s: saya tidak bermaksud melukai pihak manapun, hanya ingin menolak lupa saja. siapa tau pengalamannya bisa dijadikan pelajaran untuk yang baca. mohon maaf jika ada yang tersinggung :)