Monday, 15 June 2015

Yang Tidak Dapat Diungkapkan dengan Kata-Kata


Terhitung sudah memasuki bulan keenam tahun 2015, tepat di hari kelima belas bulan yang ke enam pula. Aku masih termangu di depan layar bergelut dengan kewajiban sebagai mahasiswi. Asik. Rasanya memang perlu untuk refleksi, sangat teramat perlu. Mengingat tahun-tahun belakangan masih banyak hal yang tidak berjalan sesuai harapan.

Ada yang berbeda dariku semenjak memasuki semester tiga, dimulai dari rutinitas, sampai ke indeks prestasi. Rasanya proses itu berharga. Semester tiga bisa dibilang merupakan semester paling terasa proses belajarnya, dimana aku merasa apa yang aku usahakan benar-benar sebanding dengan hasil yang aku dapatkan. Semester tiga pula pertama kali aku tidak mengikuti remidiasi untuk mata kuliah apapun. Benar-benar sesuai ekspektasi, bahkan lebih.

Sejak memasuki tahun kedua, aku memang sudah menegaskan pada diri sendiri bahwa waktu yang aku miliki dibangku kuliah ini sudah tidak banyak lagi. Masih banyak mimpi dan cita-cita yang ingin diraih dalam waktu yang singkat. Masih banyak pula jalan yang kuambil namun melenceng dari tujuan yang aku damba dan inginkan. Akupun sedikit banyak mulai merubahnya secara perlahan. Seorang Bari yang tadinya hobi main, kini sudah tidak lagi. Seorang Bari yang tadinya tidak bisa belajar, kini mencoba mendorong dirinya dilingkungan yang akan mengajak dan menuntutnya untuk terus belajar.



Aku meyakini bahwa tidak ada sesuatu berharga yang datang dan dapat dicapai dengan mudahnya begitu saja, bahasa gaulnya sih nothing worth having comes easy. Setiap aku merasa kesulitan, pingin nyerah, pingin marah-marah, dan segala aura negatif lainnya aku inget lagi kata-kata itu yang aku sendiri juga lupa pertama kali baca dimana. Dan belum lama ini aku bener-bener ngeliat contoh nyata dari kata-kata itu, yang bikin aku salut banget sama beberapa orang.

Benar adanya bahwasanya sesuatu yang mudah bagi kita bisa saja menjadi tidak mudah untuk orang lain, and viceversa, yang mudah bagi orang lain pun belum tentu mudah bagi kita.

Sejak bulan Oktober lalu aku baru saja melalui proses panjang, mengikuti suatu seleksi di kampus. Namanya juga proses, banyak up and down yang dilalui. Disini aku kembali melihat nilai-nilai yang pernah aku saksikan ketika berproses jaman kelas sebelas di SMA dulu, bahwasanya keadaan dan kewajiban bisa membantuk seseorang. Bahwa seseorang itu bisa banget untuk berubah melalui proses yang nggak main-main.

Banyak yang dikorbankan dalam seleksi ini, terlebih lagi soal waktu. Aku nggak henti-hentinya bersyukur kalo inget gimana curhatan teman-temanku selama liburan kemarin. Mereka yang bener-bener ngerasain homesick parah. Rela nggak pulang demi ikut kegiatan yang mereka sendiri juga nggak tau bakal lolos atau enggak. Beberapa diantara mereka pun sering nyeletuk ditengah perjalanan kalau pingin pulang aja, toh lolos juga belum tentu, tapi ketemu keluarga jelas banget harus ditunda sampe liburan semester genap tengah bulan Juli nanti. Dan perlu digaris bawahi, kalian semua berhasil melalui ini teman-teman :)

Ada satu hal yang mungkin nggak banyak orang tahu. Aku kelihatannya kaku gini, kadang seolah nggak ngerti, tapi yang jelas sedikit banyak aku mengamati. Aku salut banget sama katakanlah dia 1. Pertama kali aku tau 1, dia adalah orang yang sangat tidak bertanggung jawab. Dia tidak mengerjakan tugasnya dengan baik, entah itu akademis maupun tidak, tapi dalam proses ini dia bener-bener berubah 180 derajat. Dia kelihatan kalau harus mengejar ketertinggalan dia dengan ekstra. Dia mengerjakan semua tugasnya perlahan, tapi pasti. Bahkan ada celetukan seorang teman diluar sana yang mempertanyakan eksistensinya dalam seleksi ini, tapi aksi yang diberikan 1 menepis celetukan seorang teman yang tadi. Proficiat banget!

Ada juga yang sempat ingin terlebih dulu mengakhiri. Katanya udah nggak sanggup lagi.. tapi akhirnya dia masih sanggup dan terus bertahan sampai detik ini. Dan salah satu yang prosesnya patut diapresiasi. Nggak akan ada habisnya kalau aku ceritain semuanya disini..

terbuktilah ya kalau.. nggak semua orang seperti kelihatannya ;)

Aku nggak tau gimana rasanya jadi teman-teman, terutama yang dari luar Jawa dan udah rela nggak pulang. Nahan kangen ketemu keluarga dan teman-teman di kampung halaman sana. Sempet rasanya malu banget waktu marah-marah data habis ilang semua dan hampir tiga hari nggak tenang, nggak santai, ngebut semua tugas, nggak pulang, nginep kontrakan temen karena minjem laptopnya. Rasanya udah bingung banget, pingin pulang. Emang sih bukan karena kangen orang rumah, toh, orang tua juga lagi dinas diluar kota. Cuma... rasa nyaman ngerjain apa-apa di rumah sendiri emang beda. Dan disini aku ngerasa Tuhan itu adil. Selama proses aku juga dikasih kesempatan ngerasain nggak pulang, ngerasain nggak ketemu orang tua, terutama ibu yang dinas lama waktu itu. Karena setelah ditelusur dari semuanya, hanya tiga orang yang bukan anak rantau, dan cuma dua diantaranya yang bukan anak kos. Aku salah satunya.
(Part yang ini itu... Bikin makin pingin ngerasain merantau juga, bikin baper karena dulu belum diberikan kesempatan buat merantau sama Yang Di Atas. Someday aku harus cobain dan semoga memang dikehendaki. Minta tolong diaminin ya.)

Bulan-bulan ini berhasil bikin aku lebih lama ada di kampus. Aku yang tadinya buru-buru pingin cepet pulang habis beres kuliah. Belakangan enggak, aku banyak ada di kampus. Aku yang tadinya merasa asing, nggak kenal siapa-siapa terutama senior. Belakangan enggak, aku jadi lebih mengenal teman-teman seangkatan, jadi tau pun mengenal beberapa senior, dan jadi berinteraksi sama dosen.

Bentar lagi prosesnya bakalan selesai, mungkin emang proses yang udah dijalani disini nggak seberapa dibanding yang dijalani sama kegiatan serupa ditempat sebelah. Cuma tetep sama aja kan ya semuanya berproses huihi. Semoga gimana pun hasil prosesnya nanti bisa membawa tiap-tiap diri menjadi jauh lebih baik lagi dalam mengembangkan potensi diri dan meraih prestasi. Kalo plan A nggak berhasil, alfabet masih punya 25 stok huruf lagi kok. Jadi, gausah khawatir.

Keep your spirit up!


refleksi dini hari,
bari.

4 comments:

  1. gak usah merantu bar, gak enak wkwk
    enak ding

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha segala sesuatu pasti ada enak gak enaknya kan dew. kamu udah nyobain, doakan aku segera dapet kesempatan ya :"D

      Delete
  2. yuk merantau bareng aku nanti S2 nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk boleeeh. Pingin ke Privet Drive, Kak. Mau liat Hoghwarts :"D

      Delete

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya :)