Saturday, 2 July 2016

dinamika


beberapa tahun belakangan, saya banyak belajar tentang kehilangan. pada dasarnya di dunia ini, kita sebagai manusia, nggak punya apa-apa. semua punya Tuhan Yang Maha Kuasa dan juga akan kembali pada-Nya.

usia manusia siapa yang tahu. semua sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta. boleh jadi hari ini kita masih bercanda tawa, keesokan harinya sudah dalam keadaan berbeda.

masih ingat benar dalam ingatan saya ketika hari sabtu seusai sekolah, saya masih bercanda dengan teman saya. tanpa disangka besok malamnya saya mendengar kabar dia telah dipanggil ke hadapan-Nya. sempat juga saya merencanakan beberapa wacana dengan seorang sahabat dekat. sering menghabiskan waktu bersama, meski sudah tidak dalam almamater yang sama. tanpa disangka, dia sudah sakit lama dan kami semua tak ada yang menyadarinya. Sang Pencipta mencintainya lebih dari kami semua.

tahun lalu secara tiba-tiba, ada kabar menghebohkan grup angkatan bahwasanya ada seorang teman yang berpulang dengan kejadian tak terduga. siapa sangka orang sebaik dia, diperlakukan sedemikian rupa.


sempat saya mendengar kabar jikalau seorang sepupu telah tiada. yang pada saat bersamaan, bulik saya sedang pergi haji. pasti ada rasa tidak karuan dalam hati seorang ibu, ketika anaknya tiada dan tidak bisa berada disana. lagi-lagi seraya semesta berteriak pada saya, bahwa perpisahan dalam hidup adalah hal yang biasa dan bisa terjadi kapan saja. bahkan ketika ucapan perpisahan tak sempat diungkapkan dalam kata-kata.

november lalu ketika saya sedang submit lomba, tetiba saya dan saudara dipanggil ke icu bahwa bulik saya memasuki saat-saat terakhir dalam hidupnya. padahal tante saya yang satunya barusaja pulang untuk sekedar membersihkan badannya. semesta seolah berteriak dengan lapangnya betapa waktu, sangat berharga.

dan barusaja, om saya berpulang dalam tidurnya. tanpa sakit, tanpa apa-apa dan terkesan tiba-tiba. saya yang baru menghadiri undangan suatu radio di utara jogja terkaget-kaget membaca pesan wa. bergegaslah saya menuju kesana. dan ternyata paginya beliau masih pergi ke masjid seperti biasa, melaksanakan shalat jum'at di masjid dan bercengkrama dengan keluarga. tanpa disangka, sebelum shalat ashar beliau telah tiada. hari jumat di sepertiga terakhir bulan puasa.

betapa hidup ini tak terduga. semua hanya titipan semata yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya. buat apa kita sombong dan merasa tinggi dengan apa yang dipunya. yang melekat dalam diri tidak akan bisa dipunya, tanpa kehendak dari Sang Maha Kuasa. kapan saja, dalam keadaan sedemikian rupa, Tuhan bisa mengambil hal-hal yang kita kira kita memilikinya.

seolah semesta kembali memberi isyarat berupa metafora, bahwa kita semua harus membiasakan pun mempersiapkan diri sebaik yang kita bisa. bahwa kehilangan, kematian, merupakan hal mutlak yang bisa hadir tanpa kita duga.


semoga...
kapanpun kita semua senantiasa dikuatkan dalam menghadapi segala cobaan hidup;
lagi didekatkan dengan hal-hal positif supaya amalan kita untuk kehidupan selanjutnya, lebih dari sekedar cukup.

:)

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya :)