Wednesday, 8 March 2017

Ketika Memilih Mau SMP di Mana


Saya tidak pernah membayangkan detik ini hubungan saya dengan para adik kelas SMP saya akan sedekat ini. Bisa dibilang, mereka adalah one call away support system sejauh ini. Terutama Abdus dan Fritz yang rela kapan aja direpotin serasa mereka adalah manusia paling selo. Juga teman-teman lainnya dengan segala kegilaan baru yang senantiasa muncul ketika kita semua berjumpa. Sungguh-sungguh melebihi ekspektasi saya mengingat saya awalnya bersekolah di SMP saya dengan perasaan terpaksa.

Bisa dibilang, setiap saya lulus dari suatu sekolah, akan ada mini drama di dalam rumah antara saya dengan kedua orang tua untuk menentukkan kemana kaki ini akan melangkah. Bagaimana nanti sekolahnya, apakah dapat asupan keagamaan, apakah bisa sampai sore dan berkegiatan positif, bagaimana teman-temannya, dan masih banyak lagi pertimbangan lainnya. Tidak terkecuali ketika saya akan melanjutkan pendidikan ke bangku SMP setelah lulus sekolah dasar.

Nilai UASDA saya memang tidak sesuai ekspektasi, tidak setinggi nilai-nilai latihan ujian yang pernah diadakan dinas kota maupun provinsi. Biarpun begitu, Alhamdulillaah, dengan nilai tersebut saya masih bisa masuk ke SMP-SMP favorit di jogja, yang mana salah duanya adalah sekolah dambaan saya. Ada dua SMP di Jogja yang paling saya inginkan; yang pertama, lokasinya di Terban. Saya ingin sekolah di sana, karena dulu, Almarhum Pakdhe saya mengajar di sana. Kedua, sekolah menengah pertama yang letaknya di Jalan Cik Di Tiro. Terkenal dengan kegiatan kepramukaan yang sudah sampai taraf ASEAN pada masa itu.


Tapi apa boleh buat, proposal saya ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tua saya...

Tentunya, bukan tanpa alasan.
Beliau berdua ingin saya meneruskan sekolah menengah pertama saya di sekolah Islam dikarenakan beberapa alasan. Kemudian saya diberi beberaoa pilihan:
a. sekolah menengah pertama lanjutan dari SD saya,
b. madrasah di dekat rumah nenek saya yang liburnya hari Jum'at,
c. salah satu SMP yang ada di Gunungketur, dan
d. sekolah di mana saya akhirnya melanjutkan jenjang SMP
Sebenarnya tadinya saya mau masuk Gontor, tapi entah kenapa semua hanya wacana.

Dari keempat opsi yang orang tua saya berikan tidak ada yang menarik. Saya tidak mau meneruskan sekolah di SMP lanjutan dari SD saya, nanti temannya kurang lebih sama. Padahal saya sangat ingin memiliki suasana baru untuk SMP nanti, walaupun akhirnya saya sempat menyesal tidak memilih sekolah tersebut.

Saya juga sempat memohon kepada ibu saya untuk masuk ke SMP ibu saya dulu, di dekat Mandala Krida sana, tapi apa boleh dikata... lagi-lagi pengajuan saya ditolak dengan alasan yang tidak terbantahkan.

Kemudian perlahan ibu saya memberi pengertian tentang SMP dekat rumah saya, yang mana akhirnya saya pilih.. bahwa ibu saya pernah melakukan riset di sana. Hasil menunjukkan bahwa ada beberapa aspek-aspek positif yang bisa saya dapatkan, yang dapat membuka mata saya, yang bisa menurunkan idealisme saya yang masih amat tinggi, dan masih banyak lagi..Tak terbantahkan.. Hingga akhirnya, saya pun menurut dan melanjutkan SMP di sana.

The choose I've made was never been easy to be through if you know...

Tidak sedikit dari teman saya, tetangga saya, keluarga saya dan orang di sekeliling yang menghina, bertanya maupun mengomentari dengan pernyataan-pernyataan negatif lagi menyakitkan hati.
"Kenapa kamu nggak di SMP X sih bar? Kan nilaimu cukup, kenapa malah di sana"
"Ih kalo aku jadi kamu ya aku mending di SMP Y atau SMP X lah daripada di sana"
"Bar mending nilaimu buat aku aja daripada eman-eman nggak kamu pake buat masuk SMP favorit"
atau juga
"Kok SMPnya di sana mbak? Kenapa nggan negeri aja?"
"Nggak cukup po NEMnya buat masuk SMP X?"
"Ibunya aja xxx kok anaknya SMPnya di sana"
"Bu xxx ki pinter yo, tur kok anake....."

Bahkan ketika SMA dan sampai sekarang pun terkadang saya sedikit menghindari pertanyaan itu. Karena tidak jarang orang akan berkomentar dan bertanya, tidak terkecuali teman saya...
"Hah? Serius Bar? Aku pikir kamu dari SMP X"
"Itu di mana bar tempatnya?"
dengan tatapan aneh

Begitulah....

Paling mentok saya hanya jawab dengan "Disuruh ibuku nih hehe" atau "Mboten hehe" "Nggak papa" atau saya lebih memilih diam karena menurut saya terlalu panjang untuk menjelaskan semua drama di atas. Antara penting dan nggak penting juga untuk semua orang tau kenapa saya akhirnya masuk ke SMP saya, nggak penting juga orang-orang tau berapa sebenarnya nilai saya (walaupun beberapa orang saya ceritain), dan saya malas.

Semua komen-komen itu tidak jarang membuat saya geram. Saya bahkan sampai marah sama ibu saya. Terlebih lagi ketika tahu beberapa teman saya yang sekolah di SMP yang paling saya inginkan, yang di Cik Di Tiro, bisa berpartisipasi dalam Jambore ASEAN yang saat itu dilaksanakan di Jawa Barat (thanks facebook, you let me know about that haha), Saya menangis. I've cried a lot.

Hingga pada suatu masa saya mendatangi ibu saya,
saya mengutarakan kebencian saya, saya mengutarakan kemarahan saya akan semua keputusan saya yang tidak lain adalah paksaan halus beliau.
Dan ibu saya berbalik bertanya kepada saya...
"Sekarang gini, kamu sekolah itu biar pinter atau biar dianggap pinter?"
"....."
"Kalau kamu sekolah karena pingin pinter, berarti kalau ada orang lain yang bilang kamu nggak pinter nggak masalah dong. Nggak perlu marah."
"....."
"Pengalaman itu masih banyak banget di depan sana. Lagian Allah nggak pernah memerintahkan kita buat jadi juara, buat masuk SMP negeri. Allah menciptakan hamba-Nya tidak lain buat beribadah"
"....."

Saya cuma bisa nangis dan nahan marah waktu itu. Hati saya ketutup dan saya pakai kacamata kuda, jadi saya nggak bisa ngelihat segala keindahan di sekeliling saya dengan jelas.

Tahun-tahun terakhir saya di SMP saya mulai ngerasa bahagia banget, banyaaaak banget bersyukurnya. Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan. Terlebih dari ibu saya secara tersirat.

"Besok kamu coba liat temenmu yang rumahnya jauh-jauh. Mereka banyak yang naik sepeda kan? Kapan-kapan kamu ikut kalo dia pulang, naik sepeda juga. Main ke rumahnya. Jadi kamu tau rasanya gimana temenmu kalo berangkat ke sekolah."

"Coba belajar sama temenmu, dilihat gimana usahanya. Nggak semua orang yang belajar sungguh-sungguh itu bisa dapat nilai yang bagus, tapi bukan berarti orang-orang itu akan menyerah gitu aja dan nggak belajar lagi"

and many more.


Dan hari ini,
saya yang sudah akan memasuki usia 22 tahun lima bulan lagi, sangat mensyukuri hamburan metaphor yang ibu saya berikan selama ini. Kalau saya nggak pernah masuk SMP itu, saya nggak akan kenal sahabat-sahabat baik saya dan nggak akan bisa ngerepotin mereka kapan aja saya butuh bantuan.

Saya nggak akan kenal orang yang super perhatian kayak Zukhrofa. Orang yang hampir gabisa marah, one call away dan super cool kayak Fritz. Orang yang banyak ngomong tapi one call away kayak Abdus. Orang yang pinter bangeeeeet tapi sama sekali nggak sombong, nggak idealis dan bisa nerima keadaan kayak Avis. Orang yang ambis, pengejar mimpi dan sulit ngontrol omongan tapi menebar tawa kayak Ivan. Orang yang bigos abis, tau info terkini dari orang-orang tapi sebenernya strong banget kayak Dhiyah.

Dan masih banyak lagi. Terutama metaphor metaphor yang bikin bersyukur tiada henti.

I couldn't ask for more..


I ever read somewhere..
“there’ll be a day in which you’ll thank Allah that not all your prayers were answered”
mungkin udah berkali-kali saya tulis, tapi saya benar-benar merasakan itu dalam hidup saya. Saya sama sekali nggak menyesal. Bagi saya pengalaman ini merupakan salah satu pengalaman emosi yang berharga dalam hidup saya dan nggak akan saya tukar dengan apapun.

At the present, I thank God for everything He gave to me. Especially for giving them into my life. The best one call away support system.
I am extremely blessed. Alhamdulillaah.

related post: http://bari-maulidyaw.tumblr.com/post/158143177106/february-with-them-all-the-pictures-above-was

***
I write this to remind myself, that maybe in several years again I will be grateful for everything happen today and I could make another version story similar to the story above. 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya :)