Tuesday, 17 October 2017

Coming soon!


Oktober telah memasuki seperdua minggu terakhirnya, namun saya masih belum juga menamatkan gelar sarjana.

Sebentar,
jangan salah sangka.
Dalam tulisan ini saya tidak ingin mengeluh atau menuliskan kesedihan bahkan keluhan.
Melalui tulisan ini, saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan.
Atas keberlimpahan kebahagiaan yang Ia berikan.

Alhamdulillaah...
Saya masih diberi semangat menatap apa yang disebut harapan. Mengantongi apa yang dinyatakan sebagai kekuatan. Juga menyadari bahwa ada sekian banyak orang yang turut mendoakan.

Terima kasih telah menghadirkan kedua orang tua yang tidak pernah menuntut, meski saya sangat jauh dari kategori penurut.
Terima kasih, Allah, untuk kedua orang tua saya yang tidak pernah sedikit pun mengusik dan bertanya akan tugas akhir saya. Entah itu ditanya sampai mana, bab berapa, kapan sidang, kapan wisuda dan berbagai pertanyaan lainnya.
Terima kasih juga keluarga saya yang senantiasa mengirimkan doa.
Terima kasih telah begitu mengerti bahwa saya tidak senang ditekan, diburu-buru lagi dibanding-bandingkan. Alhamdulillaah, terasa amat melegakan.

Terima kasih pula untuk Bapak Ibu Dosen yang tiada hentinya menyapa dan bertanya diiringi tawa pun canda;
"loh kok saya belum lihat ada nama kamu di jadwal sidang?"
"sayang lho kalo kamu lama-lama, ayo dikejar temen-temennya. jangan terlena"
"kamu kapan barir? secepatnya ya"
"sudah sampai mana? kapan majunya?"
"loh.. udah pulang ya. kapan pulangnya?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tanda bahwa kalian semua menyayangi saya dan menginginkan yang terbaik untuk saya. Alhamdulillah, sedikit pun saya tidak merasa tertekan. Saya justru bahagia...

Juga dosen pembimbing yang senantiasa menguatkan saya untuk tidak menyerah dengan topik ini; yang rasanya kadang pingin ketawa sejadi-jadinya. Kenapa mau bunuh seekor tikus aja harus diam-diam menyelinap naik pesawat ruang angkasa. Beliau saja yakin saya bisa, Allah SWT juga tentunya.

Teman-teman dr kecil hingga kuliah yang luar biasa baiknya...
yang kadang-kadang bikin terharu karena perhatiannya,
tawaran bantuannya,
kebaikan hatinya,
dan doa-doa baiknya agar dapat segera tiba hari bahagia versi mereka untuk saya.

Ada yang meminjamkan kamar kosnya agar saya lebih fokus dan tidak perlu menempuh perjalanan panjang membelah jogja.
Ada pula yang sering bertanya sampai mana, ingin menemani saya berkelana.
Ada yang menawarkan bantuan desain, karena tahu kalau saya masih jauh dari kata "bisa".
Ada (bahkan banyak) yang menghujani pertanyaan, pernyataan, harapan dan bahkan permohonan untuk dikabari ketika hari itu datang. Hari yang mereka sebut sebagai hari kebahagiaan.
Ada lagi teman-teman sepermainan masa SMA yang masih dengan jahilnya mengkhawatirkan saya. Apakah Bari sudah berjalan sejauh yang mereka kira, karena Bari yang mereka kenal bukanlah sosok Bari yang dikenal oleh teman-teman kuliahnya. Lucunya...
Beberapa juga membercandai saya agar menyegerakan sebelum kota Jogja akan segera mereka tinggalkan.

I couldn't ask for more...

Terima kasih, terima kasih, terima kasih.
Saya nggak ngerti gimana menggambarkan rasa bahagia saya karena banyak orang-orang baik seperti mereka, Allah juga nggak henti-henti mengkaruniakan nikmatNya yang luar biasa.
Kalian semua adalah semangat saya, bahwa saya pasti bisa. Menyegerakan tanpa harus merasa tergesa-gesa, karena memang pada dasarnya... Saya tidak sedang bertanding dengan siapa-siapa, melainkan diri saya.

Dear all,
wait (and pray) for me ya.
Semoga,
secepatnya.

:)

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya :)